Pada tahun 1932, Suster Misionaris datang ke Pringsewu dan memulai karya di bidang pendidikan. Melalui proses yang panjang dan berkembangnya waktu, sekolah yang dahulu St. Beda School dan menjadi sekolah pertama di Pringsewu lalu berubah menjadi SD Xaverius Pringsewu dan sejak tahun 1997 berganti nama menjadi SD Fransiskus Pringsewu. SD Fransiskus Pringsewu merupakan salah satu contoh sekolah swasta yang saat ini dikelola oleh Yayasan Dwi Bakti Bandarlampung.

Menjadi siswa siswi SD Xaverius-Fransiskus Pringsewu merupakan kebanggan. Dinamika kebersamaan yang telah berlalu semasa Sekolah Dasar tersimpan dalam kenangan dan kerinduan akan masa sekolah mendasari keinginan untuk saling berjumpa.

Berawal dari diskusi dengan alumni lintas maka munculah gagasan untuk diadakan acara Reuni Agung lintas angkatan SD Xaverius – Fransiskus Pringsewu untuk mempererat tali persaudaraan. Kegiatan Reuni Agung lintas angkatan merupakan salah satu rangkaian dari acara Yubelium SD Fransiskus Pringsewu dalam menyongsong satu abad berdirinya sekolah.

Tujuan dari kegiatan reuni ini adalah membuka ruang untuk saling berbagi, bekerjasama dan membantu satu sama lain dalam berbagai hal salah satunya melalui melalui kegiatan bazar. Dan memiliki tujuan lain yaitu untuk memberikan apresiasi penghargaan dan terima kasih kepada guru serta sekolah.

Theresia Oetiek Sutiyah (Ketua panitia reuni)

Bambang Gunarwoko (dua dari sebelah kanan) dalam acara reuni agung.

Berselfie-ria (Foto: Fransiska, FSGM)
Para alumni menyanyi di atas panggung. (Foto: Fransiska, FSGM)

Acara bertema: “Satu Tekad Seribu Giat Membangun Pendidikan Lebih Maju di Era Milenial” ini diikuti sekitar 700 alumni. Entah mengapa acara ini membuat kaki para alumni terasa ringan melangkah menuju sekolah ini. Mereka rela meluangkan waktu untuk berjumpa, bernostalgia bersama teman-teman yang hampir setengah abad tak pernah berjumpa. Mengenang kembali masa-masa indah, belajar dan nakal bersama.

Ketua panitia alumni, Theresia Oetiek Sutiyah, angkatan 1966, mengatakan bahwa temu kangen ini juga mengajarkan kita untuk merajut kebersamaan, membina persaudaraan, melanggengkan silaturahmi, dan menghargai satu sama lain.

Sejak ia dipilih sebagai ketua panitia, ia berjuang mengumpulkan para alumni. Ia menyebutnya dalam Bahasa Jawa: “nglumpuk no balung pisah.” Yang artinya: mengumpulkan alumni yang tercerai berai selama setengah abad tidak pernah jumpa.

Sekolah Dasar. Ada kata dasar. Di tempat inilah kita pertama belajar menulis, berhitung. Tanpa sekolah dasar, kita tak dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya sampai kita seperti ini.

Alumni mencium tangan guru senior. (Foto: Fransiska, FSGM)

Oetiek berharap, di era digital ini acara reuni harus berkesinambungan karena kecanggihan alat komunikasi yang sangat membantu untuk menyelenggarakan acara temu alumni ini.“Kami yang sudah memprakarsai dan memulai maka harus tetap dilanjutkan oleh generasi milenial,” ujarnya.

Acara reuni agung ini dihadiri para guru purnabakti. Mereka adalah Suyadi, Ratum, Mulyanto, Sukirjo, Harsono, dan Tuty. Di akhir acara diadakan pemberian tali kasih kepada mereka.

Informasi Lebih Lanjut?
error: Content is protected !!